Mengenal Glifosat Herbisida Sistemik untuk Pengendalian Gulma
Bagikan:
Tentang Artikel
SGI - Glifosat Herbisida yang Paling Banyak Digunakan di Dunia
Saat ini, tantangan di lapangan semakin nyata, mulai dari gulma yang cepat tumbuh kembali (regrowth) hingga meluasnya risiko resistensi gulma terhadap Glifosat.
Pestisida banyak digunakan dalam pertanian modern dan merupakan cara yang efektif dan ekonomis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen, sehingga menjamin ketahanan pangan bagi populasi yang terus bertambah di seluruh dunia. Sekitar 2 juta ton pestisida digunakan setiap tahunnya di seluruh dunia, di mana Tiongkok merupakan negara penyumbang utama, diikuti oleh AS dan Argentina, yang terus meningkat pesat. Namun, pada tahun 2020, penggunaan pestisida global diperkirakan akan meningkat hingga 3,5 juta ton.
Glifosat Bukan sekedar “Obat Rumput”
Sobat SGI, di lapangan glifosat sering dikenal sederhana sebagai bahan aktif untuk membasmi gulma. Padahal, di balik satu nama tersebut terdapat cara kerja yang cukup spesifik. Glifosat diserap terutama melalui bagian hijau tanaman, bergerak di dalam jaringan, lalu mencapai titik tumbuh yang tidak terkena semprotan secara langsung. Karena sifat inilah glifosat dikenal sebagai herbisida sistemik.
Apa Itu Glifosat?
Seperti yang sudah umum diketahui, herbisida glifosat merupakan bahan kimia yang dapat menghentikan pertumbuhan gulma sementara atau seterusnya bila diperlukan pada dosis yang tepat. Pemilihan herbisida yang sesuai untuk pengendalian gulma di pertanaman sawit atau karet merupakan hal yang sangat penting. Pemilihan dilakukan dengan memperhatikan daya efikasi herbisida terhadap gulma dan ada tidaknya fitotoksisitas pada tanaman. Salah satu herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma di lahan perkebunan karet menghasilkan adalah herbisida berbahan aktif isopropilamina glifosat.
Pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, fisik, kimiawi dan pengendalian terpadu. Pengendalian gulma yang tepat salah satunya dengan cara pengendalian kimiawi, diantara semua teknik pengendalian yang ada, pengendalian secara kimia merupakan pengendalian yang cepat untuk membunuh gulma sasaran.
Glifosat merupakan herbisida sistemik non-selektif yang paling banyak digunakan dalam bidang pertanian karena kemampuannya yang efektif dalam mengendalikan berbagai jenis gulma. Senyawa ini bekerja dengan cara menghambat 5-enoylpyruvate shikimate-3 phosphatesynthase (EPSP synthase) dalam lintasan asam sikimat yang berperan penting dalam pembentukan asam amino aromatik seperti triptofan, tirosin, dan fenilalanin, sehingga menghambat sintesis protein yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh. Salah satu bentuk formulasi glifosat yang umum digunakan adalah isopropilamina glifosat, yang mampu ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman, termasuk jaringan akar yang ada di dalam tanah. Isopropilamina glifosat merupakan bahan aktif herbisida yang bersifat sistemik dan mempunyai spektrum pengendalian luas bersifat nonselektif. Glifosat dapat berpengaruh pada pigmen hingga terjadi klorotik yang menyebabkan pertumbuhan terhenti dan mati.

Gambar 2. Ringkasan cara kerja, karakter sistemik, sifat non-selektif, sasaran gulma, dan faktor aplikasi glifosat.
Mengapa Glifosat Disebut Herbisida Sistemik?
Istilah “sistemik” menjelaskan bagaimana herbisida bergerak setelah masuk ke tanaman. Herbisida sistemik tidak berhenti di permukaan daun yang terkena semprotan. Setelah diserap, bahan aktif dapat bergerak melalui jaringan pembuluh menuju bagian lain tanaman. Pada glifosat, pergerakan terutama mengikuti aliran hasil fotosintesis melalui floem menuju jaringan yang sedang aktif tumbuh, seperti titik tumbuh pucuk, akar, rimpang, atau organ penyimpanan.
Inilah salah satu alasan glifosat sering digunakan untuk gulma tahunan maupun gulma menahun. Pada gulma menahun, hanya merusak daun di permukaan belum tentu cukup karena tanaman masih dapat tumbuh kembali dari akar, rimpang, atau stolon. Herbisida sistemik memberi peluang bahan aktif bergerak ke bagian tersebut, selama gulma aktif tumbuh dan aplikasi dilakukan dengan benar.
Sistemik dan Non-Selektif Itu Dua Hal yang Berbeda
Di lapangan, istilah “sistemik”, “selektif”, dan “non-selektif” sering tercampur. Padahal, selektif versus non-selektif menjelaskan luas kelompok tanaman yang dapat terdampak. Karena itu, sebuah herbisida dapat bersifat sistemik sekaligus non-selektif, seperti glifosat.
Aspek | Herbisida Non-Selektif | Herbisida Selektif |
Spektrum sasaran | Mempengaruhi banyak kelompok tanaman yang peka | Dirancang menekan kelompok gulma tertentu dengan toleransi tanaman budidaya tertentu |
Risiko pada tanaman utama | Tinggi bila semprotan mengenai tanaman yang tidak tahan | Lebih rendah pada tanaman yang tercantum pada label bila digunakan sesuai petunjuk |
Contoh konsep | Glifosat merupakan contoh herbisida non-selektif | Beberapa herbisida rumput atau daun lebar bersifat selektif pada tanaman tertentu |
Tabel. Perbedaan non-selektif dan selektif. Glifosat justru non-selektif sekaligus sistemik.

Gambar 3. Perbedaan cara kerja herbisida kontak dan herbisida sistemik pada jaringan tanaman.
Bagaimana Glifosat Bekerja di Dalam Tanaman?
1. Masuk Melalui Jaringan Hijau
Setelah larutan mengenai daun atau bagian hijau, glifosat perlu menembus lapisan kutikula sebelum masuk ke sel. Proses penyerapan ini dipengaruhi jenis gulma, umur tanaman, kelembapan, suhu, kondisi air tanaman, konsentrasi formulasi, serta bahan tambahan di dalam larutan. Karena itu, dua aplikasi dengan dosis sama belum tentu memberikan hasil identik apabila kondisi gulma dan lingkungannya berbeda
2. Bergerak Menuju Titik Tumbuh
Setelah masuk ke jaringan, glifosat ditranslokasikan ke jaringan yang sedang aktif menggunakan jalur yang mirip dengan pergerakan hasil fotosintesis. Bagian seperti ujung akar, pucuk, daun muda, rimpang, dan organ penyimpanan menjadi lokasi penting. Pergerakan inilah yang membuat efek glifosat tidak selalu terlihat dalam hitungan jam. Bahan aktif membutuhkan waktu untuk diserap dan dipindahkan sebelum gangguan metabolisme berkembang menjadi gejala visual.
3. Menghambat Enzim EPSPS pada Jalur Sikimat
Target utama glifosat adalah enzim 5-enolpiruvil-sikimat-3-fosfat sintase atau EPSPS. Enzim ini merupakan bagian penting dari jalur sikimat yang digunakan tumbuhan untuk membentuk senyawa pendahulu asam amino aromatik, antara lain fenilalanin, tirosin, dan triptofan. Ketika EPSPS dihambat, jalur metabolisme tersebut terganggu dan pertumbuhan tanaman secara bertahap berhenti. Literatur ilmiah menyebut glifosat sebagai satu-satunya herbisida komersial utama yang menargetkan EPSPS secara langsung.

Gambar 4. Tahapan kerja glifosat: penyerapan melalui daun, translokasi, hingga penghambatan enzim EPSPS.
Mengapa gulma tidak langsung “gosong”? Pada herbisida sistemik seperti glifosat, gejala yang tidak seketika bukan berarti bahan aktif tidak bekerja. Waktu yang lebih lambat justru memberi kesempatan glifosat bergerak ke titik tumbuh dan jaringan bawah tanah. Karena itu, menilai keberhasilan hanya beberapa jam setelah penyemprotan dapat menyesatkan. |
Mengenal IPA Glifosat dan Cara Kerjanya dalam Mengendalikan Gulma
IPA Glifosat merupakan salah satu bentuk bahan aktif glifosat yang digunakan dalam formulasi herbisida sistemik non-selektif. Setelah diserap melalui daun, glifosat ditranslokasikan ke bagian lain tanaman dan menghambat enzim EPSPS yang berperan dalam pembentukan asam amino aromatik. Proses ini mengganggu metabolisme penting tanaman sehingga pertumbuhan gulma yang peka dapat terhambat dan akhirnya mati.
Dalam pengendalian gulma, karakteristik formulasi dan kemampuan bahan aktif untuk diserap serta ditranslokasikan di dalam tanaman menjadi bagian penting yang perlu dipahami. Sapu Bersih 530 SL dari PT Sinar General Industries mengandung IPA Glifosat 530 g/L dan diformulasikan sebagai herbisida sistemik purna tumbuh non-selektif untuk membantu mengendalikan gulma berdaun lebar, berdaun sempit, teki, dan alang-alang, sesuai petunjuk penggunaan pada label produk.

Gambar 5. Cara membaca komposisi IPA Glifosat 530 g/L pada label Sapu Bersih 530 SL. Gunakan label sebagai sumber utama sebelum aplikasi.
Sapu Bersih 530 SL Formulasi IPA Glifosat 530 g/L
Sapu Bersih 530 SL dari PT Sinar General Industries merupakan herbisida sistemik purna tumbuh non-selektif dengan kandungan bahan aktif IPA Glifosat 530 g/L. Kandungan ini menjadi salah satu keunggulan formulasi Sapu Bersih 530 SL dalam mendukung pengendalian gulma di lahan pertanian.
Dengan spektrum pengendalian yang luas, Sapu Bersih 530 SL dapat digunakan untuk membantu mengendalikan berbagai jenis gulma, mulai dari gulma berdaun lebar, berdaun sempit, teki, hingga alang-alang. Sifat sistemiknya memungkinkan bahan aktif bergerak melalui jaringan tanaman sasaran untuk mendukung proses pengendalian gulma.
Sapu Bersih 530 SL dapat menjadi pilihan untuk mendukung persiapan lahan dan pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Dengan formulasi IPA Glifosat 530 g/L, Sapu Bersih 530 SL hadir sebagai solusi pengendalian gulma yang praktis untuk membantu menjaga lahan tetap terkendali sesuai petunjuk penggunaan pada label produk.
Faktor yang Menentukan Efektivitas Glifosat di Lapangan
Kondisi Gulma Saat Disemprot
Glifosat bekerja paling baik ketika gulma aktif tumbuh. Gulma yang mengalami stres berat akibat kekeringan, genangan, suhu ekstrem, atau kerusakan sebelumnya dapat memiliki proses fisiologis yang melambat. Kondisi ini dapat mengurangi penyerapan maupun translokasi. Karena glifosat bergantung pada pergerakan di dalam tanaman, gulma yang aktif secara fisiologis umumnya menjadi sasaran yang lebih responsif dibandingkan gulma yang sedang berhenti tumbuh.
Umur dan Ukuran Gulma
Gulma yang terlalu besar atau sudah membentuk organ bawah tanah yang kuat membutuhkan perhatian lebih pada dosis, cakupan, dan waktu aplikasi sesuai label. Di sisi lain, gulma yang sangat kecil memiliki area daun yang lebih sedikit untuk menangkap semprotan. Karena itu, prinsipnya bukan sekadar “semakin muda semakin baik”, tetapi memilih fase yang sesuai dengan target gulma dan petunjuk produk.
Kualitas Air Semprot
Air merupakan bagian terbesar dari larutan semprot, tetapi sering dianggap hanya sebagai pembawa. Padahal, air sadah dengan kandungan kalsium dan magnesium tinggi dapat berinteraksi dengan glifosat dan menurunkan penyerapan. Kajian kimia dan penyuluhan pertanian menunjukkan bahwa kation dalam air sadah dapat membentuk kompleks dengan glifosat sehingga aktivitasnya berkurang.
Sobat SGI tidak perlu langsung menambahkan bahan pengondisi air tanpa dasar. Langkah yang lebih tepat adalah mengenali sumber air, mengecek mutu air bila masalah berulang, dan mengikuti petunjuk label mengenai bahan tambahan atau pengondisi air. Tidak semua formulasi membutuhkan perlakuan yang sama.

Gambar 6. Faktor utama yang dapat memengaruhi efektivitas glifosat di lapangan.
Cuaca, Hujan, dan Kelembapan
Karena glifosat perlu berada cukup lama pada permukaan daun agar dapat diserap, hujan terlalu cepat setelah penyemprotan dapat menurunkan hasil. Namun, lama bebas hujan berbeda antarformulasi. Karena itu, jangan memakai satu angka waktu bebas hujan untuk semua produk. Selalu periksa label produk yang digunakan. Kelembapan dan kondisi tanaman juga dapat memengaruhi penyerapan melalui perubahan kondisi kutikula dan status air tanaman.
Teknik Penyemprotan dan Hanyutan
Sebagai herbisida non-selektif, glifosat dapat merusak tanaman budidaya yang peka apabila terkena semprotan. Karena itu, arah semprot, tekanan, ukuran droplet, tinggi nozzle, kecepatan angin, serta jarak terhadap tanaman utama perlu dikendalikan. Prinsipnya, larutan harus mengenai gulma sasaran tanpa terbuang, tanpa mengalir berlebihan dari daun, dan tanpa terbawa angin menuju tanaman yang ingin dipertahankan.

Gambar 7. Kelompok gulma sasaran dan gambaran sifat non-selektif glifosat.
Memahami Glifosat Membantu Pengendalian Gulma Lebih Tepat
Bagi Sobat SGI, memahami IPA Glifosat juga penting ketika membaca label dan menentukan produk yang sesuai dengan kondisi lahan. Salah satu pilihan yang mengandung bahan aktif tersebut adalah Sapu Bersih 530 SL, herbisida sistemik purna tumbuh berspektrum luas dengan kandungan IPA Glifosat 530 g/L. Produk ini digunakan untuk membantu mengendalikan gulma berdaun lebar, berdaun sempit, teki, hingga alang-alang pada persiapan lahan.
Dalam kondisi tertentu, pengendalian gulma dapat disesuaikan dengan jenis dan keberadaan gulma di lahan. Sapu Bersih 530 SL dapat dipadukan dengan Sinarfuron 20 WG sebagai pilihan dalam strategi pengendalian gulma. Sinarfuron 20 WG mengandung Metil Metsulfuron 20% dan merupakan herbisida sistemik pra tumbuh dan purna tumbuh untuk membantu mengendalikan gulma berdaun lebar dan golongan rumput.
SGI Terus Mendukung Petani Indonesia PT Sinar General Industries selalu berkomitmen untuk memberikan solusi bagi para petani melalui penyediaan produk yang berkualitas untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas pertanian. Apabila Sobat SGI membutuhkan informasi mengenai solusi pupuk dan pestisida berkualitas untuk berbagai jenis tanaman, konsultasikan kebutuhan pertanian bersama kami. Kunjungi https://pt-sgi.com/ untuk memperoleh informasi produk, layanan konsultasi, serta solusi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan usaha tani. |
Referensi Ilmiah dan Artikel Pendukung
1. Duke, S.O. (2018). Kajian sejarah dan status terkini glifosat. Pest Management Science, 74(5), 1027-1034. DOI: 10.1002/ps.4652. Tautan sumber
2. Gomes, M.P., Smedbol, E., Chalifour, A., dkk. (2014). Kajian perubahan fisiologi tumbuhan akibat glifosat dan AMPA. Journal of Experimental Botany, 65(17), 4691-4703. DOI: 10.1093/jxb/eru269. Tautan sumber
3. Travlos, I., Cheimona, N., & Bilalis, D. (2017). Kajian efikasi berbagai formulasi garam glifosat dan adjuvan pada gulma. Agronomy, 7(3), 60. DOI: 10.3390/agronomy7030060. Tautan sumber
4. Kurniadie, D., Widianto, R., Umiyati, U., Widayat, D., Nasahi, C., & Budiawan, A. (2023). Kajian pengelolaan resistensi Eleusine indica terhadap glifosat di Indonesia. Agronomy, 13(6), 1649. DOI: 10.3390/agronomy13061649. Tautan sumber
5. Thelen, K.D., Jackson, E.P., & Penner, D. (1995). Kajian dasar antagonisme air sadah terhadap aktivitas glifosat. Weed Science, 43(4), 541-548. Tautan sumber
6. HRAC Global (2026). Klasifikasi mekanisme kerja herbisida: glifosat sebagai penghambat EPSPS Grup 9. Tautan sumber
7. UC Weed Science. Penjelasan klasifikasi herbisida sistemik, kontak, selektif, dan non-selektif. Tautan sumber
8. Iowa State University Extension. Tinjauan glifosat dan pengaruh kualitas air terhadap efektivitas aplikasi. Tautan sumber
9.Pujisiswanto, H., Rifa'i, M., Evizal, R., Sriyani, N., Susanto, H., & Sembodo, D. R. J. (2026). Efikasi herbisida campuran isopropil amina glifosat 300 g/L + 2,4-D dimetil amina 100 g/L terhadap pengendalian gulma pada budidaya kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) tanaman belum menghasilkan. Jurnal Agrotropika, 25(2), 311–326. Tautan Sumber
10.Rahmadi, R., & Rochman, F. (2020). Efikasi herbisida isopropilamina glifosat 480 SL pada gulma perkebunan karet (Hevea brasiliensis [Muell.] Arg.). Jurnal Agrorektan, 7(1). Tautan Sumber
11. GULMA, M. K. P. SELEKTIVITAS HERBISIDA. Tautan Sumber
12. Worldwide pesticide usage and its impacts on ecosystem. Tautan Sumber