SGI
05 September 2026
Berita

5 Tips Menghadapi El Niño di Pertanian Agar Tetap Aman

5 Tips Menghadapi El Niño di Pertanian Agar Tetap Aman
Tentang Artikel

5 Tips Menghadapi El Niño - Sobat SGI saat ini fenomena El Niño kembali menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kemarau panjang, kekeringan, suhu panas, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan terhadap ketersediaan pangan dan kesehatan masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Niño akan memicu penurunan curah hujan yang signifikan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini diprediksi berdampak pada musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Fenomena El Niño sering menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Ketika El Niño terjadi, curah hujan biasanya menurun drastis sehingga menyebabkan kekeringan berkepanjangan yang berdampak langsung pada produksi tanaman pangan.

Akibatnya, petani menghadapi berbagai macam risiko seperti gagal panen, penurunan produktivitas lahan, hingga meningkatnya biaya produksi. Oleh karena itu, berikut 5 tips menghadapi El Niño di pertanian agar tetap aman.

Apa itu El Niño dan Mengapa Berdampak pada Pertanian? 

El Niño merupakan fenomena iklim global yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini mengganggu pola sirkulasi atmosfer sehingga mempengaruhi distribusi curah hujan di berbagai wilayah dunia.

Di Indonesia,  El Niño biasanya menyebabkan:

  • Penurunan curah hujan

  • Musim kemarau yang lebih panjang

  • Meningkatnya suhu udara

  • berkurangnya ketersediaan air tanah

Kondisi tersebut dapat mempengaruhi sistem irigasi, pertumbuhan tanaman, serta produktivitas lahan pertanian

5 Tips Menghadapi El Niño di Pertanian Agar Tetap Aman

Tanaman yang Paling Terdampak 

Meski kondisi saat ini ekstrem, sektor pertanian tetap menjadi sektor yang paling rentan terhadap fenomena El Niño. Dalam kondisi ekstrem penurunan produktivitas bisa mencapai 50 persen, tergantung jenis tanaman dan kondisi lahan.

Jenis tanaman yang sangat rentan adalah padi dan sayuran daun karena membutuhkan air yang banyak, sensitif di fase kritis pertumbuhan, dan kualitas rentan menurun. Jenis tanaman yang cukup rentan lainnya adalah jagung dan kedelai. Jagung cukup rentan saat fase pembungaan dan kedelai bisa terpengaruh kekeringan saat pembentukan polong.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2026 mengingatkan bahwa dampak El Niño perlu diantisipasi sejak dini. Pada sejumlah wilayah Indonesia, kondisi ini dapat menyebabkan curah hujan berada di bawah normal dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Bisa Picu Krisis Pangan Jika Tidak Diantisipasi

Musim kering bukan berarti kegiatan pertanian harus berhenti.Namun, ketika El Niño menguat, keputusan yang terlambat dapat membuat persediaan air semakin terbatas, tanaman lebih mudah mengalami cekaman, jadwal tanam terganggu, dan biaya usaha tani meningkat. Kondisi inilah yang perlu diantisipasi Sobat SGI sejak awal, terutama ketika tanda kekeringan mulai terlihat di lahan.

Dampak El Niño tidak hanya berhenti di lahan pertanian, tetapi juga berpengaruh pada sistem pangan secara luas. Kekeringan akan menyebabkan penurunan debit air irigasi dan meningkatkan risiko gagal panen, terutama di lahan tadah hujan. Akibatnya, produksi menurun dan mendorong kenaikan harga pangan. Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa El Niño memiliki hubungan kuat dengan kondisi panas dan kering di Indonesia. Perubahan iklim dan El Niño bersama-sama meningkatkan kemungkinan terjadinya panas ekstrem dan kekeringan di Indonesia.

Petani  menghadapi El Nino dan kekeringan pertanian

Dampak El Niño terhadap Kemunculan Hama Tanaman 

El Niño tidak hanya menyebabkan kondisi cuaca menjadi lebih kering dan curah hujan berkurang, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan hama pada tanaman. Kondisi lingkungan yang berubah akibat cuaca panas dan kering dapat membuat beberapa jenis hama lebih mudah berkembang dan menyerang tanaman.

Saat tanaman mengalami kekurangan air, pertumbuhannya dapat terganggu sehingga tanaman menjadi lebih lemah. Kondisi tersebut dapat membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), termasuk hama seperti wereng, kutu daun, trips, dan beberapa jenis ulat.

Petani perlu lebih rutin memantau kondisi tanaman selama periode El Niño. Perhatikan perubahan pada daun, batang, maupun pertumbuhan tanaman. Jika mulai ditemukan tanda serangan hama, lakukan pengendalian sesuai jenis hama dan kondisi tanaman agar serangan tidak semakin meluas.

Dampak Kekeringan El Niño pada Lahan Pertanian 

Dampak pertama yang paling mudah terasa adalah berkurangnya ketersediaan air. Debit saluran dapat menurun, sumur menjadi lebih dangkal, dan sumber air di permukaan menyusut. Pada lahan tadah hujan, risiko menjadi lebih besar karena waktu tanam sangat bergantung pada datangnya hujan. Jika penanaman dilakukan tanpa melihat kecukupan air sampai fase kritis tanaman, maka potensi kehilangan hasil panen dapat meningkat.

Dampak kedua adalah meningkatnya cekaman pada tanaman. Kekurangan air dapat mengganggu pembentukan daun, bunga, buah, atau bulir, tergantung jenis tanaman dan fase pertumbuhannya. Suhu yang lebih tinggi juga dapat mempercepat kehilangan air dari tanah. Tanaman yang sedang tertekan biasanya membutuhkan pengelolaan yang lebih hati-hati agar tidak semakin terbebani oleh pemupukan, gulma, atau serangan organisme pengganggu tanaman.

Dampak berikutnya adalah perubahan kenaikan biaya produksi. Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pompa air, bahan bakar irigasi, pembuatan sumur, dan sistem pengairan tambahan atau mencari sumber air alternatif. Akibatnya biaya produksi meningkat sementara hasil panen belum tentu optimal.


menghadapi El Nino dan kekeringan pertanian

5 Tips Menghadapi El Niño di Pertanian Agar Tetap Aman

  1. Prioritaskan Air dan Kurangi Pemborosan

Air adalah sumber daya paling penting saat El Niño. Salah satu dampak paling nyata dari El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sumber air, waduk, sungai, dan cadangan air tanah mengalami tekanan. 

Masyarakat dapat mulai menghemat air dengan mengurangi penggunaan air untuk aktivitas yang tidak mendesak, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, serta menyimpan cadangan air bersih secukupnya apabila wilayah tempat tinggal berisiko mengalami kekeringan. Sobat SGI dapat memulai dengan memeriksa kebocoran saluran, memperbaiki pematang, membersihkan saluran yang tersumbat, mengurangi aliran yang terbuang, dan mengatur pembagian air berdasarkan kebutuhan tanaman.

Pada lahan padi, Kementerian Pertanian pada 2026 mendorong penerapan pengairan berselang sebagai salah satu teknologi hemat air. Prinsipnya, sawah tidak harus selalu digenangi terus-menerus pada seluruh fase pertumbuhan. Pengairan dilakukan secara terukur sesuai kondisi tanah dan kebutuhan tanaman. Penerapan harus memperhatikan jenis tanah, umur tanaman, keadaan akar, serta rekomendasi teknis setempat agar penghematan air tidak justru memicu cekaman berlebihan.

Untuk hortikultura dan tanaman lain, penggunaan mulsa dapat membantu mengurangi penguapan dari permukaan tanah sekaligus menekan pertumbuhan gulma. Bahan organik juga dapat ditambahkan secara tepat untuk membantu memperbaiki kemampuan tanah menahan air. Pada lahan yang memungkinkan, buat tampungan air sederhana, manfaatkan embung, kolam, parit penampung, atau sumber air alternatif yang aman dan legal.

  1. Sesuaikan Waktu Tanam dengan Ketersediaan Air

Penyesuaian kalender tanam menjadi langkah awal yang dapat dilakukan. Dengan menyesuaikan waktu tanam terhadap prakiraan musim, petani dapat menghindari fase pertumbuhan tanaman yang membutuhkan banyak air pada periode puncak kekeringan.

Kesalahan waktu tanam dapat membuat tanaman memasuki fase kritis tepat ketika air mencapai titik terendah. Karena itu, Sobat SGI perlu menjadikan prakiraan BMKG, kalender tanam, informasi penyuluh, dan kondisi sumber air sebagai dasar keputusan. Jangan hanya mengikuti kebiasaan tanggal tanam tahun sebelumnya karena pola musim dapat bergeser.

  1. Menggunakan Varietas Tanaman Lebih Tahan Kekeringan

Salah satu langkah efektif adalah menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan. Beberapa varietas padi, jagung, dan kedelai telah dikembangankan untuk mampu bertahan dalam kondisi air terbatas. Keuntungan menggunakan varietas tahan kekeringan yaitu:

  • Kebutuhan air lebih rendah

  • Pertumbuhan lebih stabil saat musim kering

  • Risiko gagal panen lebih kecil

  1. Jaga Kelembaban Tanah, Nutrisi, dan Kesehatan Tanaman

Tanah yang sehat membantu tanaman bertahan lebih baik saat ketersediaan air menurun. Sobar SGI dapat menjaga permukaan tanah agar tidak cepat kehilangan air dengan mulsa, pengendalian gulma, serta penambahan bahan organik sesuai kebutuhan lahan. Gulma perlu dikendalikan karena ikut menggunakan air dan unsur hara yang seharusnya tersedia bagi tanaman utama.

Pemupukan juga perlu lebih cermat. Jangan memaksakan pemberian pupuk ketika tanah sangat kering dan tanaman sedang layu berat. Ketersediaan air memengaruhi pelarutan dan penyerapan unsur hara. Waktu, dosis, dan cara aplikasi sebaiknya menyesuaikan jenis tanaman, kondisi tanah, serta rekomendasi pemupukan setempat. Jika memungkinkan, gunakan hasil uji tanah atau panduan penyuluh untuk menghindari pemupukan yang berlebihan.

Kondisi panas dan kering dapat mengubah pola serangan hama dan penyakit. Karena itu, lakukan pengamatan rutin pada daun, batang, akar, bunga, dan buah. Pengendalian organisme pengganggu tanaman sebaiknya berdasarkan hasil pengamatan, tingkat serangan, dan anjuran yang berlaku. Penggunaan pestisida harus mengikuti label, dosis, sasaran, waktu aplikasi, alat pelindung, serta interval yang dianjurkan. Hindari penggunaan berlebihan hanya karena tanaman tampak lemah akibat kekeringan.

  1. Siapkan Rencana Bersama Kelompok Tani

El Niño sulit dihadapi sendirian, terutama ketika sumber air digunakan oleh banyak petani. Karena itu, rencana darurat perlu dibuat bersama kelompok tani, gabungan kelompok tani, pengelola irigasi, penyuluh, dan pemerintah setempat. Tentukan sumber air utama dan cadangan, jadwal pembagian air, lokasi pompa, kebutuhan bahan bakar, petak prioritas, serta orang yang bertanggung jawab jika debit air turun mendadak.

El Niño sulit dihadapi sendirian, terutama ketika sumber air digunakan oleh banyak petani. Karena itu, rencana darurat perlu dibuat bersama kelompok tani, gabungan kelompok tani, pengelola irigasi, penyuluh, dan pemerintah setempat. Tentukan sumber air utama dan cadangan, jadwal pembagian air, lokasi pompa, kebutuhan bahan bakar, petak prioritas, serta orang yang bertanggung jawab jika debit air turun mendadak.

Pemanfaatan Teknologi dalam Mekanisasi Pertanian 

El Niño 2026 menjadi pengingat bahwa pertanian semakin membutuhkan keputusan yang berbasis informasi iklim dan kondisi lapangan. Data BMKG pada awal September menunjukkan El Niño sudah berada pada intensitas sangat kuat. Bagi petani, hal terpenting bukan sekadar mengetahui bahwa musim lebih kering, tetapi mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap air, waktu tanam, varietas, tanah, dan rencana darurat.

Selain strategi tradisional, teknologi pertanian juga berperan penting dalam menghadapi dampak El Niño.

Beberapa teknologi yang dapat membantu petani yaitu:

  • Sensor kelembaban tanah

  • Sistem irigasi otomatis

  • Pompa air efisiensi tinggi

  • Alat pertanian modern yang hemat energi

Fenomena El Niño merupakan tantangan serius bagi sektor pertanian karena dapat menyebabkan kekeringan panjang dan penurunan produksi pangan. Namun dengan strategi yang tepat, dampak tersebut dapat diminimalkan.

5 Tips Menghadapi El Niño di Pertanian Agar Tetap Aman meliputi prioritaskan Air dan Kurangi Pemborosan, Sesuaikan Waktu Tanam dengan Ketersediaan Air, Menggunakan Varietas Tanaman Lebih Tahan Kekeringan, Jaga Kelembaban Tanah, Nutrisi, dan Kesehatan Tanaman, Siapkan Rencana Bersama Kelompok Tani.

PT Sinar General Industries selalu berkomitmen untuk memberikan solusi bagi para petani melalui penyediaan produk yang berkualitas untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Apabila Sobat SGI membutuhkan informasi mengenai solusi pupuk dan pestisida berkualitas untuk berbagai jenis tanaman, konsultasikan kebutuhan pertanian bersama kami. Kunjungi https://pt-sgi.com/ untuk memperoleh informasi produk, layanan konsultasi, serta solusi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan usaha tani.

Berita Terkait

Mengenal Glifosat Herbisida Sistemik untuk Pengendalian Gulma

Mengenal Glifosat Herbisida Sistemik untuk Pengendalian Gulma

Glifosat dikenal sebagai herbisida sistemik non-selektif yang bekerja dari daun menuju titik tumbuh tanaman.

Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Dampaknya bagi Pertanian

Abu Vulkanik Anak Krakatau dan Dampaknya bagi Pertanian

Erupsi Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Sebaran abu vulkanik dapat memengaruhi tanaman dan tanah dengan tingkat dampak yang berbeda....

Indonesia Perluas Peluang Ekspor Beras di Tengah Permintaan Global

Indonesia Perluas Peluang Ekspor Beras di Tengah Permintaan Global

Indonesia perluas ekspor beras dengan produksi surplus, teknik modern, dan permintaan pasar global.