Temu Lapang Petani Cabai Blitar 2026 - SGI Ajak 250 Petani Belajar di Lahan
Bagikan:
Tentang Event
Sobat SGI, pertanian tidak hanya berkembang dari teori. Banyak keputusan budidaya justru menjadi lebih mudah dipahami ketika petani dapat melihat tanaman secara langsung, membandingkan hasil di lahan, bertanya kepada tenaga lapangan, lalu mendiskusikan masalah yang benar-benar terjadi di kebun. Inilah alasan kegiatan temu lapang memiliki nilai penting bagi petani, terutama pada komoditas cabai yang membutuhkan pengamatan dan pengelolaan intensif.
Pada 20 dan 21 Mei 2026, PT Sinar General Industries melaksanakan kegiatan temu lapang akbar petani di Kecamatan Candirejo, Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dalam agenda SGI, kegiatan ini disebut Big Farmers Field Day atau BFFD. Lebih dari 250 petani hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh tim regional Jawa Timur. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan hasil lahan percontohan, berbagi informasi pertanian, mengenalkan solusi perlindungan tanaman, dan membahas pengendalian hama serta penyakit cabai.
Bagi SGI, pertemuan di lapangan bukan sekadar acara berkumpul. Nilai utamanya ada pada proses melihat bukti, memahami masalah, dan mendiskusikan pilihan pengelolaan yang sesuai dengan kondisi usaha tani. Pendekatan seperti ini penting karena setiap lahan memiliki kondisi yang berbeda. Cuaca, jenis tanah, sumber air, varietas, pola pemupukan, hingga tekanan organisme pengganggu tumbuhan dapat memengaruhi hasil budidaya.
Mengapa Temu Lapang Penting bagi Petani Cabai?
Cabai termasuk komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi, tetapi pengelolaannya juga menuntut ketelitian. Kesalahan pada satu tahap budidaya dapat memengaruhi tahap berikutnya. Benih yang kurang sehat, pengairan tidak memadai, pemupukan tidak seimbang, serta keterlambatan mengendalikan penyakit dapat menurunkan mutu dan jumlah hasil panen.
Temu lapang membantu petani memperoleh gambaran yang lebih nyata. Petani tidak hanya menerima penjelasan, tetapi dapat melihat kondisi tanaman, membandingkan perlakuan, mengamati gejala penyakit, dan berdiskusi mengenai tindakan yang dapat dilakukan. Dalam konteks pembelajaran, cara seperti ini membuat informasi teknis lebih mudah dipahami karena langsung dikaitkan dengan keadaan tanaman di lapangan.
Kegiatan di Blitar dirancang dengan beberapa agenda utama, yaitu memperlihatkan perbandingan hasil lahan percontohan PT SGI dengan kontrol petani, melakukan sosialisasi produk SGI, berdiskusi mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai, serta membuka penjualan langsung berhadiah. Susunan kegiatan tersebut menunjukkan bahwa temu lapang menggabungkan unsur pembuktian, pendidikan, komunikasi, dan akses terhadap solusi pertanian.

Blitar Memiliki Peran Penting dalam Produksi Cabai
Pemilihan Blitar sebagai lokasi kegiatan sangat relevan dengan kekuatan wilayah ini pada komoditas cabai. Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar menyebut Kabupaten Blitar termasuk lima kabupaten sentra penghasil cabai rawit terbesar di Jawa Timur. Pada 2023, produksi cabai rawit Blitar tercatat 441.909 kuintal dan menempatkan Blitar pada posisi keempat di Jawa Timur pada tahun tersebut.
Data yang dicantumkan dalam acuan kegiatan SGI juga menunjukkan besarnya produksi cabai di Kabupaten Blitar. Berdasarkan tabel Badan Pusat Statistik pada tahun 2025 yang dirujuk dalam draf acuan, produksi cabai rawit tercatat 521.225,00 kuintal, cabai besar 18.631,00 kuintal, dan cabai keriting 40.639,00 kuintal. Angka ini memperlihatkan bahwa cabai bukan komoditas kecil bagi perekonomian pertanian setempat.
Data utama | Nilai | Sumber |
Produksi cabai rawit Blitar 2023 | 441.909 kuintal | |
Perkiraan produksi cabai rawit merah di Blitar Maret 2026 | 7.050 ton | |
Perkiraan surplus cabai rawit merah Maret 2026 | 5.594 ton | |
Luas tanam pada sentra Kab. Blitar | sekitar 6.000 hektare |
Data terbaru dari Kementerian Pertanian semakin memperkuat peran Blitar. Berdasarkan Sistem Peringatan Dini periode Maret dan April 2026, produksi cabai rawit merah di Kabupaten Blitar untuk Maret 2026 diperkirakan mencapai 7.050 ton dengan neraca surplus 5.594 ton. Kementerian Pertanian juga menyebut luas tanam di sejumlah kecamatan sentra sekitar 6.000 hektare dengan potensi panen awal sekitar 2.000 hektare pada minggu kedua Maret 2026.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muh. Agung Sunusi, menyampaikan bahwa Blitar sejak 2017 terus menjadi salah satu penyangga cabai rawit nasional. Fakta ini menunjukkan bahwa perbaikan budidaya di Blitar memiliki arti lebih luas. Ketika produktivitas petani di daerah sentra terjaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh petani setempat, tetapi juga dapat membantu menjaga ketersediaan pasokan cabai.

Tantangan Petani Cabai Blitar Masih Nyata
Besarnya potensi produksi tidak berarti budidaya cabai di Blitar bebas dari tantangan. Kementerian Pertanian pada 2026 mencatat bahwa produktivitas di Blitar menghadapi tekanan akibat faktor alam. Disebutkan beberapa kendala yang dihadapi petani, antara lain cuaca ekstrem, penggunaan benih yang kurang baik, keterbatasan pengairan pada lahan tadah hujan, serangan patek atau antraknosa, lalat buah, dan gangguan tikus.
Cuaca menjadi salah satu faktor yang sangat sulit dikendalikan petani. Curah hujan tinggi dan kelembapan yang meningkat dapat membuat lingkungan tanaman lebih mendukung perkembangan sejumlah penyakit. Sebaliknya, keterbatasan air pada lahan tadah hujan dapat mengganggu pertumbuhan dan pembentukan hasil. Karena itu, keberhasilan budidaya membutuhkan pengelolaan yang menyeluruh, bukan hanya mengandalkan satu jenis sarana produksi.
Antraknosa Perlu Diwaspadai pada Tanaman Cabai

Salah satu penyakit penting yang perlu diwaspadai pada tanaman cabai adalah antraknosa. Balai Penelitian Tanaman Sayuran menjelaskan bahwa penyakit busuk buah antraknosa dapat disebabkan oleh cendawan Colletotrichum dan memiliki cabai sebagai salah satu tanaman inang. Pada tingkat lapangan, penyakit ini perlu diperhatikan karena menyerang bagian buah dan dapat menurunkan mutu hasil panen.
Pengendalian penyakit tidak sebaiknya hanya dilakukan setelah gejala menjadi berat. Petani perlu menerapkan langkah pencegahan dan pengamatan berkala, menggunakan benih sehat, menjaga kebersihan lahan, mengelola kelembapan, membuang bagian tanaman yang menjadi sumber penyakit bila diperlukan, serta menggunakan fungisida terdaftar sesuai label dan kebutuhan. Penggunaan pestisida juga perlu dilakukan secara bijaksana agar risiko resistensi dapat ditekan.
Sebagai salah satu pilihan dalam pengendalian penyakit tanaman, Hexacar 50/50 SC merupakan fungisida sistemik yang bersifat protektif dan kuratif dengan kombinasi dua bahan aktif, yaitu heksakonazol 50 g/l dan karbendazim 50 g/l. Kombinasi tersebut membantu mengendalikan berbagai penyakit tanaman, termasuk penyakit yang disebabkan oleh cendawan, dengan cara kerja yang memberikan perlindungan sekaligus membantu mengatasi penyakit yang telah berkembang pada tanaman.
Hexacar 50/50 SC juga mudah diserap melalui daun dan akar sehingga membantu memberikan perlindungan pada tanaman. Penggunaannya sesuai dosis dan petunjuk pada label dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tanaman cabai tetap sehat dan mendukung pertumbuhan serta hasil panen yang optimal.
Temu Lapang sebagai Ruang Diskusi Masalah Nyata
Temu lapang petani adalah kegiatan pembelajaran langsung di lahan yang mempertemukan petani, tenaga lapangan, dan pihak terkait untuk melihat kondisi tanaman, membahas hasil budidaya, serta bertukar informasi mengenai masalah dan solusi pertanian.
Salah satu kekuatan kegiatan temu lapang adalah adanya kesempatan bertanya langsung. Petani dapat membawa persoalan yang sedang dihadapi di kebun, kemudian membandingkannya dengan pengalaman petani lain dan penjelasan tenaga lapangan. Bagi Sobat SGI, ruang diskusi seperti ini dapat membantu mempercepat proses mengenali masalah sebelum menentukan tindakan.
Tidak semua daun menguning memiliki penyebab yang sama. Tidak semua buah busuk disebabkan oleh penyakit yang sama. Demikian pula, tidak semua penurunan hasil dapat diselesaikan hanya dengan menambah pupuk atau meningkatkan frekuensi penyemprotan. Diagnosis yang tepat menjadi dasar penting agar biaya budidaya tidak terbuang dan tindakan yang dilakukan sesuai sasaran.
Kegiatan SGI juga memuat sosialisasi produk. Dalam konteks yang baik, pengenalan produk seharusnya selalu disertai penjelasan mengenai sasaran, bahan aktif, formulasi, cara penggunaan, waktu aplikasi, serta aspek keselamatan. Petani membutuhkan informasi yang cukup agar dapat menggunakan produk secara tepat, bukan hanya mengetahui nama dagangnya.

Empat Nilai Utama yang Dibawa Pulang Petani dari Temu Lapang
1. Membandingkan Lahan Percontohan dan Cara Budidaya Petani
Salah satu kegiatan utama adalah memperlihatkan perbandingan hasil lahan percontohan PT Sinar General Industries dengan lahan pembanding petani. Perbandingan ini penting karena petani dapat melihat hasil perlakuan secara nyata dalam kondisi lingkungan yang relatif sama.
Lahan percontohan bukan berarti seluruh perlakuan harus langsung diterapkan oleh semua petani. Fungsinya adalah menyediakan tempat belajar. Petani dapat mengamati perbedaan kondisi tanaman, menilai hasilnya, kemudian mempertimbangkan bagian mana yang sesuai dengan kebutuhan lahannya sendiri. Pendekatan ini membantu keputusan budidaya menjadi lebih berdasarkan pengamatan.
2. Pengetahuan menjadi lebih dekat dengan masalah sehari-hari
Pembahasan hama, penyakit, pemupukan, dan pengelolaan tanaman menjadi lebih mudah dipahami ketika contoh gejalanya berada di depan mata. Petani juga dapat menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang sudah dimiliki. Cabai termasuk tanaman yang memerlukan pengamatan rutin. Gejala kecil pada daun, bunga, atau buah dapat berkembang menjadi kerugian apabila terlambat diketahui. Karena itu, diskusi pengendalian hama dan penyakit menjadi bagian penting dalam kegiatan temu lapang.
Kementerian Pertanian pada Maret 2026 secara khusus mengingatkan kewaspadaan terhadap antraknosa, lalat buah, trips, dan organisme pengganggu lain pada sentra cabai, terutama ketika kelembapan tinggi. Di Blitar, antraknosa atau patek juga disebut sebagai salah satu masalah yang menurunkan kualitas buah. Dengan membahas gejala dan kondisi lapangan secara langsung, petani dapat lebih mudah memahami kapan perlu melakukan pencegahan, pengamatan, dan pengendalian.
3. Ada ruang bertukar pengalaman antarpetani
Lebih dari 250 petani yang hadir berarti kegiatan ini tidak hanya menjadi komunikasi satu arah. Pengalaman dari kebun yang berbeda dapat menjadi bahan diskusi, terutama ketika menghadapi perubahan cuaca, serangan penyakit, atau penurunan produktivitas. Setiap petani membawa pengalaman, tantangan, serta cara budidaya yang mungkin berbeda. Pertukaran pengalaman antarpeserta dapat memperkaya pembahasan di luar materi utama.
Petani yang menghadapi antraknosa dapat belajar dari petani yang mempunyai pengalaman mengelola kelembapan. Petani yang kesulitan air dapat bertukar pengalaman mengenai waktu tanam atau pengelolaan pengairan. Petani yang ingin mencoba teknologi baru dapat melihat hasil lahan percontohan sebelum mengambil keputusan untuk lahannya. Inilah kekuatan kegiatan lapangan dalam skala besar. Pengetahuan tidak bergerak satu arah dari perusahaan kepada petani. Pengetahuan juga tumbuh dari dialog antarpelaku usaha tani.
4. Solusi dapat dinilai berdasarkan kebutuhan
Pengenalan produk menjadi lebih bermanfaat ketika dikaitkan dengan masalah yang jelas. Petani dapat mengetahui fungsi produk, sasaran, bahan aktif, serta batas penggunaannya. Dengan cara ini, keputusan pembelian dapat lebih terarah dan sesuai kebutuhan usaha tani.
Cabai termasuk tanaman yang memerlukan pengamatan rutin. Gejala kecil pada daun, bunga atau buah dapat berkembang menjadi kerugian apabila terlambat diketahui. Karena itu, diskusi pengendalian hama dan penyakit menjadi bagian penting dalam kegiatan temu lapang.
Kementerian Pertanian pada Maret 2026 secara khusus mengingatkan kewaspadaan terhadap antraknosa, lalat buah, trips, dan organisme pengganggu lain pada sentra cabai, terutama ketika kelembapan tinggi. Di Blitar, antraknosa atau patek juga disebut sebagai salah satu masalah yang dapat menurunkan kualitas buah. Dengan membahas gejala dan kondisi lapangan secara langsung, petani dapat lebih mudah memahami kapan perlu melakukan pencegahan, pengamatan, dan pengendalian.
Untuk membantu pengendalian hama pada tanaman cabai, Logamate 440 EC dapat menjadi salah satu pilihan. Insektisida ini bekerja sebagai racun kontak dan lambung serta berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan. Dengan bahan aktif dimetoat 440 g/l, Logamate 440 EC digunakan untuk membantu mengendalikan trips (Thrips parvispinus) dan kutu daun (Myzus persicae) pada tanaman cabai sesuai dengan petunjuk penggunaan produk.
Sementara itu, untuk membantu mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan, Pat-hene 80 WP yang merupakan fungisida kontak berbentuk tepung yang dapat disuspensikan. Dengan bahan aktif mankozeb 80%, produk ini digunakan untuk membantu mengendalikan penyakit antraknosa dan bercak daun pada tanaman cabai serta penyakit hawar daun pada tanaman kentang sesuai dengan sasaran dan petunjuk penggunaan pada label.
Pemilihan produk tetap perlu disesuaikan dengan jenis organisme pengganggu tumbuhan, tingkat serangan, kondisi tanaman, serta petunjuk penggunaan pada label. Dengan mengenali masalah sejak dini dan memilih produk sesuai kebutuhan, pengendalian dapat dilakukan secara lebih tepat sehingga tanaman cabai dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.
Dari Pertemuan Lapang Menuju Budidaya yang Lebih Terukur
Nilai suatu kegiatan pertanian tidak berhenti pada hari pelaksanaan. Manfaat sebenarnya terlihat ketika informasi yang diperoleh dapat diterapkan secara bertahap di kebun. Setelah mengikuti temu lapang, Sobat SGI dapat mulai dari langkah sederhana: mencatat masalah utama di lahan, mengamati tanaman secara rutin, mencatat perlakuan yang diberikan, membandingkan hasil, dan mengevaluasi biaya serta hasil panen.
Pencatatan sederhana membantu petani mengenali pola. Misalnya, kapan antraknosa mulai muncul, bagaimana kondisi cuaca saat gejala meningkat, perlakuan apa yang telah diberikan, dan bagaimana perubahan kondisi tanaman setelah tindakan dilakukan. Informasi tersebut dapat membantu diskusi berikutnya dengan tenaga lapangan menjadi lebih tepat dan berbasis fakta.
Pertanian yang produktif tidak selalu berarti menggunakan lebih banyak sarana produksi. Yang lebih penting adalah menggunakan sarana produksi secara tepat. Pemilihan benih, pupuk, pestisida, waktu aplikasi, dan jumlah aplikasi perlu mempertimbangkan kondisi nyata tanaman. Pendekatan ini juga dapat membantu menjaga biaya produksi agar setiap pengeluaran memiliki tujuan yang jelas.
Komitmen SGI Mendampingi Pertanian dari Lapangan
Melalui kegiatan temu lapang di Blitar, PT Sinar General Industries menunjukkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penyediaan produk. Kegiatan tersebut juga memuat pendampingan lapangan, berbagi informasi pertanian, diskusi pengendalian hama dan penyakit, serta pengenalan teknologi budidaya. Bentuk pendampingan seperti ini penting karena solusi pertanian perlu disesuaikan dengan masalah yang dihadapi petani.
Bagi daerah seperti Blitar yang berperan dalam pasokan cabai, peningkatan pengetahuan petani dapat memberikan dampak yang lebih luas. Ketika tanaman lebih terkelola, penyakit dapat dideteksi lebih dini, penggunaan sarana produksi lebih tepat, dan mutu hasil lebih terjaga, peluang mempertahankan produktivitas juga menjadi lebih besar. Tidak ada satu kegiatan yang dapat menyelesaikan seluruh tantangan, tetapi pembelajaran lapangan dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat pengambilan keputusan petani.
PT Sinar General Industries menempatkan kemitraan dengan petani sebagai bagian dari arah perusahaan. Melalui produk perlindungan tanaman, pendampingan lapangan, dan edukasi budidaya, kegiatan seperti temu lapang menjadi cara untuk mendekatkan solusi dengan kebutuhan petani.
Komitmen tersebut relevan dengan tantangan pertanian yang terus berubah. Cuaca, organisme pengganggu tumbuhan, biaya produksi, dan kebutuhan pasar menuntut petani untuk terus memperbarui pengetahuan. Perusahaan, penyuluh, pemerintah, dan petani perlu bekerja bersama agar teknologi yang digunakan benar-benar memberikan manfaat di lahan.

Agar Hasil Temu Lapang Tidak Berhenti sebagai Informasi
Informasi dari temu lapang akan lebih bermanfaat jika diterjemahkan menjadi langkah yang dapat dicoba dan dievaluasi. Sobat SGI tidak perlu mengubah seluruh pola budidaya sekaligus. Mulailah dari masalah yang paling sering menurunkan hasil, misalnya serangan antraknosa, pengairan yang tidak stabil, atau penggunaan pestisida yang belum terencana. Setelah itu, tentukan tindakan perbaikan yang paling masuk akal untuk kondisi kebun.
Langkah berikutnya adalah melakukan pengamatan sebelum dan sesudah perlakuan. Catat tanggal aplikasi, kondisi cuaca, umur tanaman, gejala yang terlihat, serta perubahan yang terjadi. Bila menggunakan pestisida, catat nama produk, bahan aktif, dosis sesuai label, dan sasaran pengendaliannya. Catatan sederhana seperti ini membantu petani membedakan antara hasil yang benar-benar berasal dari perlakuan dan perubahan yang mungkin dipengaruhi oleh cuaca atau kondisi tanaman.
Petani juga sebaiknya membandingkan hasil berdasarkan ukuran yang mudah diamati, seperti jumlah tanaman sehat, tingkat kerusakan buah, mutu hasil panen, jumlah petikan, dan biaya yang dikeluarkan. Dengan demikian, keputusan musim berikutnya tidak hanya berdasarkan ingatan, tetapi memiliki dasar yang lebih jelas. Pendamping lapangan juga akan lebih mudah memberikan saran ketika memiliki informasi mengenai kondisi kebun dan riwayat perlakuannya.
Prinsipnya sederhana: lihat kondisi, tentukan masalah, pilih tindakan, catat hasil, lalu evaluasi. Cara berpikir ini sejalan dengan tujuan temu lapang, yaitu membuat teknologi pertanian lebih dekat dengan kebutuhan petani. Pertemuan di lahan menjadi titik awal, sedangkan penerapan dan evaluasi di kebun masing-masing menjadi proses yang menentukan manfaat akhirnya.
Temu lapang petani cabai di Blitar mempertemukan tiga hal penting dalam satu kegiatan: bukti di lahan, pertukaran pengetahuan, dan akses terhadap solusi budidaya. Lebih dari 250 petani mengikuti kegiatan SGI untuk melihat perbandingan lahan percontohan, berdiskusi mengenai hama dan penyakit, mengenal produk, serta berbagi pengalaman pertanian.
Kegiatan ini juga berlangsung di wilayah yang memiliki arti penting bagi produksi cabai. Data BPS dan Kementerian Pertanian menunjukkan posisi Blitar sebagai salah satu daerah sentra. Pada Maret 2026, produksi cabai rawit merah Blitar diperkirakan mencapai 7.050 ton dengan surplus 5.594 ton. Di sisi lain, cuaca ekstrem, keterbatasan pengairan, kualitas benih, antraknosa, lalat buah, dan gangguan tikus tetap menjadi tantangan yang membutuhkan pengelolaan serius.
Karena itu, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan satu produk atau satu metode. Petani membutuhkan pengamatan, pengetahuan, penggunaan sarana produksi yang tepat, dan pendampingan yang berkelanjutan. Temu lapang menjadi salah satu cara untuk mendekatkan pengetahuan tersebut kepada petani melalui contoh nyata di kebun.
PT Sinar General Industries (SGI) berkomitmen untuk menghasilkan produk pestisida yang tidak hanya mengatasi hama & penyakit tanaman, tetapi juga membantu para petani untuk meningkatkan produktivitas mereka secara berkelanjutan, mulai dari penyediaan produk perlindungan tanaman yang efektif, pendampingan lapangan serta edukasi teknologi budidaya modern, untuk pertanian yang berkelanjutan.
Apabila Sobat SGI membutuhkan informasi mengenai solusi pupuk dan pestisida berkualitas untuk berbagai jenis tanaman, konsultasikan kebutuhan pertanian bersama kami. Kunjungi https://pt-sgi.com/ untuk memperoleh informasi produk, layanan konsultasi, serta solusi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan usaha tani.